SELAMAT DATANG!

Jumat, 18 Desember 2009

USIA 17 TAHUN

. Jumat, 18 Desember 2009

Tiga hari belakangan ini dia selalu melirik-lirik serta menyinggung-nyinggung soal busana di etalase toko ini bila kebetulan kami lewat. Tentu saja aku tahu, itu hanya triknya agar aku mau menjawil penghuni dompet bututku yang berupa lembaran-lembaran nominal bernama rupiah ini. Duit, tepatnya!
Katanya, "Ardi, bagus ya gaun itu? Seperti punya Cinderela...."
Ya, bagaimana tidak bagus. orang harganya juga bagus, kok!
Lalu ia juga bilang, "Lisa kepingin banget deh, punya longdres yang kayak gitu."
Boleh, boleh saja. Akan kubelikan, asal pacarmu yang tongpes ini sudah jadi konglomerat (doakan saja semoga pacarmu ini tidak sampai menjadi engkong melarat).
Juga bilang, "Eh, Lisa kan deket-deket hari ini sweet seventeen-an."
Iya, tahu! Aku lebih hapal hari jadimu ketimbang hari jadiku sendiri.
Ah, serba salah aku. Posisiku sebagai pacarnya kian terdesak saat dia mendesak. Untuk menolak mentah-mentah keinginannya yang menggebu-gebu dan makan banyak ongkos itu, kayaknya aku tidak sanggup. Misalkan kutolak, lha di mana akan kutaruh mukaku yang berjerawat batu ini? Tapi, untuk memaksakan diri membeli gaun itu, sama juga aku bunuh dirisecara pelan-pelan. Bagaimana tidak, orang neraktir dia nonton film di Twenty One saja karcisnya dicicil, kok!
Kemarin, semalam-malaman aku tidak dapat tidur. Selalu saja gelisah memikirkan bagaimana caranya agar aku dapat membeli gaun yang terpampang menggoda di depan mataku ini sebagai kado ultah Lisa. Dan berangkat dari hal itulah maka aku malah sempat berpikir untuk memanfaatkan biro jasanya Bang Sobri, yang tukang rentenir itu. Tapi untuk minta bantuannya kini, tentu saja aku malu berat. Sudah berkali-kali dia datang ke pondokanku buat menagih sepasang sepatu kulit yang kukredit tempo hari. Namun aku selalu mengelak dan menghindar. Sebenarnya aku tidak lari dari kenyataan dan tanggung jawab. Utang sih tetap utang yang mesti dibayar. Tapi salah dia sendiri, sih! Siapa suruh ngasih bunga tinggi-tinggi amat?! Akhirnya ya, untuk sementara ini aku bersiasat ala gerilya. Kalau dia datang-datang, aku ngumpet ke kolong ranjang. Selesai perkara.
Dan....
"Ada yang bisa saya bantu?" Deretan kata yang membentuk kalimat tanya itu membuyarkan lamunanku. Kutoleh, lantas mengurai senyum jengah ke arah asal suara itu.
Si Empunya suara tadi balik tersenyum saat mata kami berbenturan. Ternyata seorang gadis pramuniaga. Hm, kira-kira sebaya dengan Lisa.
Jawabku segera, "Ng-nggak ada." Cuma itu, sebab hatiku keburu dilingkup rasa malu dan minder.
Uh, kilauan pernak-pernik pada gaun itu malah menari-nari di pelupuk mataku. Hatiku bergemuruh. Antara, beli-tidak-beli-tidak!
Ah, itu juga gara-gara Lisa yang kelewat jetset. Seharusnya dia mau tahu keadaanku yang pas-pasan, bahkan kembang-kempis begini. kalau minta dibelikan kaus-oblong sih, ya aku sanggup. Lima sekaligus tidak apa. Asal yang di pasar loak sana!
Memang, mau tidak mau aku berkewajiban memberinya perhatian lebih. Sebab dia adalah pacarku. Cintaku. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa, cinta itu perlu berkorban?
Benar! Cinta memang perlu berkorban. Tapi perut atawa 'kampung tengah' jauh lebih penting, dan melebihi semua tetek-bengek tentang cinta.
Jadi....
"Maaf, Anda nyari apa?"
Astaga!
Entah berapa lama aku kembali terpatung serupa sosok fiber-glass doll di etalase toko ini. Idih, malu aku. Mungkin tanpa kusadari tadi, aku telah berlaku sebangsa gelo. Senyum-senyum sendiri, misalnya.
"Jeans bercorak gembel barangkali?" Jari telunjuknya yang lentik mengarah dan berhenti tepat di sudut ruang etalase. "Atau... rompi, blaser, kulot...."
Glek! Kutelan ludahku yang terasa pahit. Dasar tukang dagang. Serobotan kalimatnya yang menawarkan barang-barang garmen sih sah-sah saja. Boleh-boleh saja. Tapi mbok ya, lihat-lihat dulu dong. Masak aku yang berpenampilan dekil ini dianggap. Nyatanya, pakaian selembar saja buat pacarku mesti mikir-mikir sampai botak kepala.
"Hm, aku naksir longdress itu...." Kontan telunjukku mengarah ke boneka pajangan pakaian berbentuk gadis bule itu. Opus! Kenapa aku bisa kelepasan bicara begitu, ya? ufh, aku gagal memendam rasa. Dan itu berefek ganda pada diriku. Mukaku memerah. Tapi hatiku plong!
"O, Nasir ya? Nasir-nya lagi nggak masuk kerja, tuh. Katanya sih, sakit."
Ngawur! Gadis pramuniaga itu ngelantur. Aku geli, dan tertawa dalam hati. Memangnya Nasir itu bokap gue?
"Bukan Nasir, kataku," kuralat kalimatnya. "Tapi naksir. Saya," kutunjuk dadaku lantas menunjuk boneka pajangan pakaian," naksir longdres itu."
Dia membelalak. Dan tersipu malu-malu dengan gerakan tangan seolah mengejang.
"Ups... so-sori, ya? Saya salah dengar," jelasnya kikuk. Pipinya merah seranum buah tomat.
"Ya, nggak apa-apa. Yang penting rajin-rajin ngersihin tuh kup...." Hups! Buru-buru kututup mulutku dengan telapak tangan. Giliran aku yang ngawur. Pasti dia tersinggung dan marah bila sampai menangkap penuh kalimatku barusan.
"Eh, namamu siapa sih?" Secepat mesin turbo kubertanya perihal dirinya untuk mencegah ke hal yang tak mengenakkan. "Boleh kenalan nggak?" Kuhela kalimat apa saja yang berkelebat di memori otakku.
Lima detik gadis itu terdiam dengan kepala yang tertunduk jengah. "Boleh," katanya pada guliran detik yang keenam.
Lampu hijau yang dinyalakannya sedikit melegakan hati, sekaligus melupakan sejenak keresahan jiwa. uh, pada senyumnya kudapati kesejukan serupa embun.
Tapi semuanya tidak berlangsung lama. Karena sepatah suara bariton yang terdengar bagai geledek membuyarkan semuanya. Gadis itu berlari masuk ke dalam toko. Rupanya majikannya yang bertampang angker itu memanggilnya. Kupikir dia tidak senang apabila pelayannya melayani komsumen kere semacam aku, yang sedari tadi hanya melihat-lihat saja tanpa membeli sesuatu.
Ah, nasib!
***
Dan pada kenyataannya malam ini aku mengambil keputusan yang sama sekali tidak kuharapkan. Tidak kuhadiri pesta ultah Lisa! Mungkin aku kelewat ekstrim dengan tindakan yang kuputuskan secara bimbang dan mendadak. Tapi apa mau dikata?
Telah kupikirkan akibat-akibat yang bakal kuterima nanti. Dan itu mesti kupertanggung-jawabkan pada Lisa. Aku harus siap dimaki, dicerca, ataupun... diputuskan!
Ya, Tuhan! Diputuskan?!
Berat memang untuk menerima kenyataan kalau perjalanan cinta antara aku dan Lisa harus putus di tengah jalan. Yang kandas hanya lantaran persoalan sepele. Ya, sepele menurutku. Tapi tidak bagi Lisa! Sebab Lisa memandang segala sesuatu dari satu sisi saja. Dia tidak mau tahu, dan tidak akan pernah mau tahu apa dan bagaimana persoalan itu.
Memang jelas aku bersalah karena tidak menghadiri momen terpenting dalam kehidupan Lisa. Tapi sungguh, semua itu bukan semata kesalahanku. Keegoisannya itulah yang menjadi momok bagi diriku. Dan aku lebih memilih untuk diperlakukan apa saja (termasuk di-PHK-kan) daripada terhina di muka teman-temannya di ruang pesta.
Bayangkan, bagaimana malu dan mindernya aku jika melihat teman-temannya mengecup pipinya sembari menyerahkan sebuah kado. Lha, aku sendiri pacarnya tidak memberinya apa-apa?!
Kulihat di luar, bias jingga sedari tadi telah memudar ditelan kekelaman. Itu berarti pesta ultah Lisa telah berlangsung. Galau kuusap wajah. Detak jam di dinding kamar seolah semakin menambah kecemasan ketika kulirik hp yang telah kumatikan sedari tadi dalam diam di atas meja belajarku. Ada sesuatu yang menohok dadaku. Dan sakit tidak kepalang tanggung!
***
Siang ini, seperti biasa seusai bubar sekolah, aku rutin menjemput Lisa dengan sepeda motor tuaku ini. Kukebut sepeda motorku yang terasa lamban dan malas berjalan. Beberapa kali sudah aku memaki-maki, tapi si Butut tetap ngotot tidak mau kencang. Malah dia semakin menyebalkan. Di pertigaan sana tadi, dia malah ngadat dan terbatuk-batuk. Uh!
Tiba di muka halaman sekolah, kulihat bibir manyun Lisa telah menyambutku. Dia bersandar di gerbang pintu pagar.
Hatiku kecut. Lisa membuang muka seolah tidak menyadari kehadiranku. Ah, rupanya firasatku kali ini akan menjadi kenyataan. Usia cinta kami kayaknya tidak akan berumur panjang. Tidak akan melewati sampai malam ini.
"Hai, Lis... pu-pulang, yuk?" Aku tergagap membuka perbincangan. Kutepuk-tepuk sadel belakang seolah menepis debu-debu yang lengket di sana.
Dia diam, hanya melirik arloji yang melingkar indah di pergelangan tangannya. Mukanya masam seperti habis kesiram cuka.
"Atau, kita makan dulu di...."
Lisa menyalib kasar. "Kita langsung ke pokok persoalan! Oke?"
Aku menunduk. "Oke. Tapi nggak di sini."
Dia mengangguk getas. Lantas duduk di belakang. Kuhidupkan motor pelan.
"Ada apa sih denganmu, Di?" Kalimat itu terlontar dari bibir mungil Lisa begitu kami duduk di sebuah cafe.
"Nggak ada apa-apa, Lis. Saya...."
"Jangan bilang nggak ada apa-apa kalau sampai kamu nggak nongol di rumah semalam!"
"Sa-saya...."
"Kamu sudah nggak sayang sama Lis lagi, kan?"
"Siapa yang bilang begitu?" Kulirik sinis matanya dengan takut-takut.
"Hah! Kamu masih bisa ngomong begitu?" Dilipatnya tangan di dada dengan sikap kaku. Terdengar keras dengusannya.
Aku membela diri. "Kenapa nggak? Saya masih sayang kamu, kok."
"Lantas, apa arti kemarin...?! Kenapa juga hp dimatikan?!"
"Itu karena...."
"Lis nggak suka cowok yang nggak jujur, Ardi!"
Aku mulai jengkel atas sikapnya yang egois dan blak-blakan begitu. "What do you meant, heh?"
Bahu Lisa terlihat bergoyang. "Kamu...!"
Cuek kuseruput jus jeruk yang kami pesan tadi. Amarahku sudah memuncak. Sebagai seorang laki-laki, aku tidak pantas ditekan-tekan begitu. Kesabaran toh pada dasarnya ada batasnya.
"Lis se-sesali ketidakhadiran seorang Ardi pada pesta ultah Lis kemarin," seru Lisa dengan suara terpatah-patah.
"O, why?"
"Kamu pacar Lis, Ardi!"
Aku menimpali. "Dan sebagai seorang pacar, saya berhak untuk nggak hadir di pesta ultahmu itu."
"Kamu... kamu kenapa sih, Di?" Mata Lisa memerah. "Kamu jadi aneh!"
Kami terdiam. Lama. Iseng kukembarakan pikiranku ke selatan kota. Di sana, kutemukan kesejukan yang sudah lama tidak kudapatkan lagi pada seorang Lisa. Pada Lisa, yang kutemui hanyalah rasa jenuh dan menyebalkan. Dan pada gadis pramuniaga itu, kurasakan getar asing yang....
"Lis pingin tahu alasan apa yang bikin kamu nggak menghadiri...." Lisa menggugah lamunanku dengan suara paruh tangis. Kalimatnya tak rampung.
Mataku turut memerah. "Kamu pingin tahu?!" tanyaku setengah berteriak. Kepalalaku sudah kepalang panas. Untung suasana di dalam cafe tidak terlalu ramai. (Diam-diam aku bersyukur untuk itu).
"Ya, supaya ada alasan yang tepat sebelum putus!" Lisa terisak.
Aku semakin tersinggung. Huh, mentang-mentang....
"Hanya ada satu alasan kenapa saya nggak menghadiri pesta ultahmu kemarin!" Aku berterus terang. "Karena saya nggak sanggup beliin kamu kado gaun seperti yang...."
Mata Lisa membola. Sudut bibirnya terangkat.
"Ja-jadi lantaran itu kamu nggak hadir?!" tanyanya cepat.
"Ya."
Tawa renyah Lisa menyeruak. Dihapusnya titik airmata yang menggantung di pelupuk matanya dengan punggug tangan.
Aku heran.
"Astaga, Ardi! Kamu pikir Lis ini cewek matre apa?"
Aku tambah bingung dan tidak mengerti. Dia tiba-tiba jadi familier di mataku.
"Maaf kalau selama ini Lis selalu menyusahkan kamu, Di. Lis memang egois," akunya, tersenyum sumringah. "Kadang-kadang Lis juga childist banget. Tapi, sejak kemarin, bahkan jauh hari sebelum Lis berusia tujuhbelas, Lis sudah berjanji pada diri sendiri dan pada Tuhan, bahwa Lis akan mengubah semua sifat jelek Lis selama ini."
"Tapi...."
"Maafkan Lis selama ini, Di. Lis nggak nyangka kelakuan jele k Lis ini berdampak buruk pada hubungan kita yang telah terjalin lama." Dengan ketenangan penuh, Lisa menangkupi tangannya ke tanganku yang bergetar kaget di atas meja. "Percayalah, Di. Lis akan memulai hidup baru, sebab Lis sadar suatu saat kelak akan berpisah sama Papi-Mami. Ya, suatu saat kelak saat semuanya akan dipanggil oleh Tuhan. Semuanya. Tak terkecuali kita, dan Papi-Mami. Makanya, Lis banyak merenung, belajar untuk mandiri serta nggak bergantung sama Bokap-Nyokap."
Aku masih terkesima. Mendadak mendapati seorang Lisa yang lain, yang baru lahir ke dunia ini dengan sejumlah kearifan.
Kusandarkan punggungku ke kursi. Menghela napas lega. Terima kasih, Tuhan! Keajaiban itu telah tiba....
"Kamu mau memaafkan Lis kan, Di?" pintanya berharap-harap.
"Ten-tentu, tentu!" anggukku keras dengan segebung rasa bahagia.
Ah, ternyata ada yang tak kuketahui persis tentang Lisa. Waktu yang bergulir cepat telah perlahan mengubahnya. Bukan saja usianya yang perlahan menanjak dewasa, namun juga sifat dan perilakunya. Dan aku patut bersyukur untuk itu.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

 

JADWAL SHOLAT

Total Tayangan Halaman

This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by miscah.blogspot.com