by: Afief K. Rachman
Di antara hiruk pikuk tabuh genderang dunia fana
Ku temukan setitik cahaya cemerlang bak kilauan mutiara dalam samudra
Di ujung waktu,aku masih tak percaya
Namun saat ku ayunkan langkah kaki tuk yang pertama
Kulihat sang dewi malam tersenyum mesra dalam dimensi hening purnama
Itukah sebuah pertanda ?
Tanda kasih nan sayang akan abadi jua ?
Meskipun awan hitam berarakan seakan berkejar-kejaran
Meskipun badai prasangka nan nestapa selalu hadir menerpa
Meskipun kejora tak selalu menampakkan canda tawanya
Meskipun dunia seakan ditutup layarnya
Akan kuraih pijar kilaumu yang indah memesona
Dalam kehangatan dekapan nyata . . .
Meskipun masih ada bayang-bayang luka asmara
Yang terus mengalun dalam kesenyapan jiwa
Namun bersamamu,
Akan ku rangkai kembali
Puing-puing asa yang tercecer terhempas angin derita
Dan akan ku rajut kembali
Benang-benang halus yang talah kusut
Inikah janji setia ?
Janganlah kau sangsikan rasa kasih sayang di sudut hati ini
Yang tak akan pernah pudar termakan usia
Yang tak akan layu di jamah masa
Yang aku tujukan hanya untukmu
Selama-lamanya . . .
BPA5
Jumat, 25 Desember 2009
KUTEMUKAN KASIH SAYANG
Label: puisiJumat, 18 Desember 2009
USIA 17 TAHUN
Label: cerpenTiga hari belakangan ini dia selalu melirik-lirik serta menyinggung-nyinggung soal busana di etalase toko ini bila kebetulan kami lewat. Tentu saja aku tahu, itu hanya triknya agar aku mau menjawil penghuni dompet bututku yang berupa lembaran-lembaran nominal bernama rupiah ini. Duit, tepatnya!
Katanya, "Ardi, bagus ya gaun itu? Seperti punya Cinderela...."
Ya, bagaimana tidak bagus. orang harganya juga bagus, kok!
Lalu ia juga bilang, "Lisa kepingin banget deh, punya longdres yang kayak gitu."
Boleh, boleh saja. Akan kubelikan, asal pacarmu yang tongpes ini sudah jadi konglomerat (doakan saja semoga pacarmu ini tidak sampai menjadi engkong melarat).
Juga bilang, "Eh, Lisa kan deket-deket hari ini sweet seventeen-an."
Iya, tahu! Aku lebih hapal hari jadimu ketimbang hari jadiku sendiri.
Ah, serba salah aku. Posisiku sebagai pacarnya kian terdesak saat dia mendesak. Untuk menolak mentah-mentah keinginannya yang menggebu-gebu dan makan banyak ongkos itu, kayaknya aku tidak sanggup. Misalkan kutolak, lha di mana akan kutaruh mukaku yang berjerawat batu ini? Tapi, untuk memaksakan diri membeli gaun itu, sama juga aku bunuh dirisecara pelan-pelan. Bagaimana tidak, orang neraktir dia nonton film di Twenty One saja karcisnya dicicil, kok!
Kemarin, semalam-malaman aku tidak dapat tidur. Selalu saja gelisah memikirkan bagaimana caranya agar aku dapat membeli gaun yang terpampang menggoda di depan mataku ini sebagai kado ultah Lisa. Dan berangkat dari hal itulah maka aku malah sempat berpikir untuk memanfaatkan biro jasanya Bang Sobri, yang tukang rentenir itu. Tapi untuk minta bantuannya kini, tentu saja aku malu berat. Sudah berkali-kali dia datang ke pondokanku buat menagih sepasang sepatu kulit yang kukredit tempo hari. Namun aku selalu mengelak dan menghindar. Sebenarnya aku tidak lari dari kenyataan dan tanggung jawab. Utang sih tetap utang yang mesti dibayar. Tapi salah dia sendiri, sih! Siapa suruh ngasih bunga tinggi-tinggi amat?! Akhirnya ya, untuk sementara ini aku bersiasat ala gerilya. Kalau dia datang-datang, aku ngumpet ke kolong ranjang. Selesai perkara.
Dan....
"Ada yang bisa saya bantu?" Deretan kata yang membentuk kalimat tanya itu membuyarkan lamunanku. Kutoleh, lantas mengurai senyum jengah ke arah asal suara itu.
Si Empunya suara tadi balik tersenyum saat mata kami berbenturan. Ternyata seorang gadis pramuniaga. Hm, kira-kira sebaya dengan Lisa.
Jawabku segera, "Ng-nggak ada." Cuma itu, sebab hatiku keburu dilingkup rasa malu dan minder.
Uh, kilauan pernak-pernik pada gaun itu malah menari-nari di pelupuk mataku. Hatiku bergemuruh. Antara, beli-tidak-beli-tidak!
Ah, itu juga gara-gara Lisa yang kelewat jetset. Seharusnya dia mau tahu keadaanku yang pas-pasan, bahkan kembang-kempis begini. kalau minta dibelikan kaus-oblong sih, ya aku sanggup. Lima sekaligus tidak apa. Asal yang di pasar loak sana!
Memang, mau tidak mau aku berkewajiban memberinya perhatian lebih. Sebab dia adalah pacarku. Cintaku. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa, cinta itu perlu berkorban?
Benar! Cinta memang perlu berkorban. Tapi perut atawa 'kampung tengah' jauh lebih penting, dan melebihi semua tetek-bengek tentang cinta.
Jadi....
"Maaf, Anda nyari apa?"
Astaga!
Entah berapa lama aku kembali terpatung serupa sosok fiber-glass doll di etalase toko ini. Idih, malu aku. Mungkin tanpa kusadari tadi, aku telah berlaku sebangsa gelo. Senyum-senyum sendiri, misalnya.
"Jeans bercorak gembel barangkali?" Jari telunjuknya yang lentik mengarah dan berhenti tepat di sudut ruang etalase. "Atau... rompi, blaser, kulot...."
Glek! Kutelan ludahku yang terasa pahit. Dasar tukang dagang. Serobotan kalimatnya yang menawarkan barang-barang garmen sih sah-sah saja. Boleh-boleh saja. Tapi mbok ya, lihat-lihat dulu dong. Masak aku yang berpenampilan dekil ini dianggap. Nyatanya, pakaian selembar saja buat pacarku mesti mikir-mikir sampai botak kepala.
"Hm, aku naksir longdress itu...." Kontan telunjukku mengarah ke boneka pajangan pakaian berbentuk gadis bule itu. Opus! Kenapa aku bisa kelepasan bicara begitu, ya? ufh, aku gagal memendam rasa. Dan itu berefek ganda pada diriku. Mukaku memerah. Tapi hatiku plong!
"O, Nasir ya? Nasir-nya lagi nggak masuk kerja, tuh. Katanya sih, sakit."
Ngawur! Gadis pramuniaga itu ngelantur. Aku geli, dan tertawa dalam hati. Memangnya Nasir itu bokap gue?
"Bukan Nasir, kataku," kuralat kalimatnya. "Tapi naksir. Saya," kutunjuk dadaku lantas menunjuk boneka pajangan pakaian," naksir longdres itu."
Dia membelalak. Dan tersipu malu-malu dengan gerakan tangan seolah mengejang.
"Ups... so-sori, ya? Saya salah dengar," jelasnya kikuk. Pipinya merah seranum buah tomat.
"Ya, nggak apa-apa. Yang penting rajin-rajin ngersihin tuh kup...." Hups! Buru-buru kututup mulutku dengan telapak tangan. Giliran aku yang ngawur. Pasti dia tersinggung dan marah bila sampai menangkap penuh kalimatku barusan.
"Eh, namamu siapa sih?" Secepat mesin turbo kubertanya perihal dirinya untuk mencegah ke hal yang tak mengenakkan. "Boleh kenalan nggak?" Kuhela kalimat apa saja yang berkelebat di memori otakku.
Lima detik gadis itu terdiam dengan kepala yang tertunduk jengah. "Boleh," katanya pada guliran detik yang keenam.
Lampu hijau yang dinyalakannya sedikit melegakan hati, sekaligus melupakan sejenak keresahan jiwa. uh, pada senyumnya kudapati kesejukan serupa embun.
Tapi semuanya tidak berlangsung lama. Karena sepatah suara bariton yang terdengar bagai geledek membuyarkan semuanya. Gadis itu berlari masuk ke dalam toko. Rupanya majikannya yang bertampang angker itu memanggilnya. Kupikir dia tidak senang apabila pelayannya melayani komsumen kere semacam aku, yang sedari tadi hanya melihat-lihat saja tanpa membeli sesuatu.
Ah, nasib!
***
Dan pada kenyataannya malam ini aku mengambil keputusan yang sama sekali tidak kuharapkan. Tidak kuhadiri pesta ultah Lisa! Mungkin aku kelewat ekstrim dengan tindakan yang kuputuskan secara bimbang dan mendadak. Tapi apa mau dikata?
Telah kupikirkan akibat-akibat yang bakal kuterima nanti. Dan itu mesti kupertanggung-jawabkan pada Lisa. Aku harus siap dimaki, dicerca, ataupun... diputuskan!
Ya, Tuhan! Diputuskan?!
Berat memang untuk menerima kenyataan kalau perjalanan cinta antara aku dan Lisa harus putus di tengah jalan. Yang kandas hanya lantaran persoalan sepele. Ya, sepele menurutku. Tapi tidak bagi Lisa! Sebab Lisa memandang segala sesuatu dari satu sisi saja. Dia tidak mau tahu, dan tidak akan pernah mau tahu apa dan bagaimana persoalan itu.
Memang jelas aku bersalah karena tidak menghadiri momen terpenting dalam kehidupan Lisa. Tapi sungguh, semua itu bukan semata kesalahanku. Keegoisannya itulah yang menjadi momok bagi diriku. Dan aku lebih memilih untuk diperlakukan apa saja (termasuk di-PHK-kan) daripada terhina di muka teman-temannya di ruang pesta.
Bayangkan, bagaimana malu dan mindernya aku jika melihat teman-temannya mengecup pipinya sembari menyerahkan sebuah kado. Lha, aku sendiri pacarnya tidak memberinya apa-apa?!
Kulihat di luar, bias jingga sedari tadi telah memudar ditelan kekelaman. Itu berarti pesta ultah Lisa telah berlangsung. Galau kuusap wajah. Detak jam di dinding kamar seolah semakin menambah kecemasan ketika kulirik hp yang telah kumatikan sedari tadi dalam diam di atas meja belajarku. Ada sesuatu yang menohok dadaku. Dan sakit tidak kepalang tanggung!
***
Siang ini, seperti biasa seusai bubar sekolah, aku rutin menjemput Lisa dengan sepeda motor tuaku ini. Kukebut sepeda motorku yang terasa lamban dan malas berjalan. Beberapa kali sudah aku memaki-maki, tapi si Butut tetap ngotot tidak mau kencang. Malah dia semakin menyebalkan. Di pertigaan sana tadi, dia malah ngadat dan terbatuk-batuk. Uh!
Tiba di muka halaman sekolah, kulihat bibir manyun Lisa telah menyambutku. Dia bersandar di gerbang pintu pagar.
Hatiku kecut. Lisa membuang muka seolah tidak menyadari kehadiranku. Ah, rupanya firasatku kali ini akan menjadi kenyataan. Usia cinta kami kayaknya tidak akan berumur panjang. Tidak akan melewati sampai malam ini.
"Hai, Lis... pu-pulang, yuk?" Aku tergagap membuka perbincangan. Kutepuk-tepuk sadel belakang seolah menepis debu-debu yang lengket di sana.
Dia diam, hanya melirik arloji yang melingkar indah di pergelangan tangannya. Mukanya masam seperti habis kesiram cuka.
"Atau, kita makan dulu di...."
Lisa menyalib kasar. "Kita langsung ke pokok persoalan! Oke?"
Aku menunduk. "Oke. Tapi nggak di sini."
Dia mengangguk getas. Lantas duduk di belakang. Kuhidupkan motor pelan.
"Ada apa sih denganmu, Di?" Kalimat itu terlontar dari bibir mungil Lisa begitu kami duduk di sebuah cafe.
"Nggak ada apa-apa, Lis. Saya...."
"Jangan bilang nggak ada apa-apa kalau sampai kamu nggak nongol di rumah semalam!"
"Sa-saya...."
"Kamu sudah nggak sayang sama Lis lagi, kan?"
"Siapa yang bilang begitu?" Kulirik sinis matanya dengan takut-takut.
"Hah! Kamu masih bisa ngomong begitu?" Dilipatnya tangan di dada dengan sikap kaku. Terdengar keras dengusannya.
Aku membela diri. "Kenapa nggak? Saya masih sayang kamu, kok."
"Lantas, apa arti kemarin...?! Kenapa juga hp dimatikan?!"
"Itu karena...."
"Lis nggak suka cowok yang nggak jujur, Ardi!"
Aku mulai jengkel atas sikapnya yang egois dan blak-blakan begitu. "What do you meant, heh?"
Bahu Lisa terlihat bergoyang. "Kamu...!"
Cuek kuseruput jus jeruk yang kami pesan tadi. Amarahku sudah memuncak. Sebagai seorang laki-laki, aku tidak pantas ditekan-tekan begitu. Kesabaran toh pada dasarnya ada batasnya.
"Lis se-sesali ketidakhadiran seorang Ardi pada pesta ultah Lis kemarin," seru Lisa dengan suara terpatah-patah.
"O, why?"
"Kamu pacar Lis, Ardi!"
Aku menimpali. "Dan sebagai seorang pacar, saya berhak untuk nggak hadir di pesta ultahmu itu."
"Kamu... kamu kenapa sih, Di?" Mata Lisa memerah. "Kamu jadi aneh!"
Kami terdiam. Lama. Iseng kukembarakan pikiranku ke selatan kota. Di sana, kutemukan kesejukan yang sudah lama tidak kudapatkan lagi pada seorang Lisa. Pada Lisa, yang kutemui hanyalah rasa jenuh dan menyebalkan. Dan pada gadis pramuniaga itu, kurasakan getar asing yang....
"Lis pingin tahu alasan apa yang bikin kamu nggak menghadiri...." Lisa menggugah lamunanku dengan suara paruh tangis. Kalimatnya tak rampung.
Mataku turut memerah. "Kamu pingin tahu?!" tanyaku setengah berteriak. Kepalalaku sudah kepalang panas. Untung suasana di dalam cafe tidak terlalu ramai. (Diam-diam aku bersyukur untuk itu).
"Ya, supaya ada alasan yang tepat sebelum putus!" Lisa terisak.
Aku semakin tersinggung. Huh, mentang-mentang....
"Hanya ada satu alasan kenapa saya nggak menghadiri pesta ultahmu kemarin!" Aku berterus terang. "Karena saya nggak sanggup beliin kamu kado gaun seperti yang...."
Mata Lisa membola. Sudut bibirnya terangkat.
"Ja-jadi lantaran itu kamu nggak hadir?!" tanyanya cepat.
"Ya."
Tawa renyah Lisa menyeruak. Dihapusnya titik airmata yang menggantung di pelupuk matanya dengan punggug tangan.
Aku heran.
"Astaga, Ardi! Kamu pikir Lis ini cewek matre apa?"
Aku tambah bingung dan tidak mengerti. Dia tiba-tiba jadi familier di mataku.
"Maaf kalau selama ini Lis selalu menyusahkan kamu, Di. Lis memang egois," akunya, tersenyum sumringah. "Kadang-kadang Lis juga childist banget. Tapi, sejak kemarin, bahkan jauh hari sebelum Lis berusia tujuhbelas, Lis sudah berjanji pada diri sendiri dan pada Tuhan, bahwa Lis akan mengubah semua sifat jelek Lis selama ini."
"Tapi...."
"Maafkan Lis selama ini, Di. Lis nggak nyangka kelakuan jele k Lis ini berdampak buruk pada hubungan kita yang telah terjalin lama." Dengan ketenangan penuh, Lisa menangkupi tangannya ke tanganku yang bergetar kaget di atas meja. "Percayalah, Di. Lis akan memulai hidup baru, sebab Lis sadar suatu saat kelak akan berpisah sama Papi-Mami. Ya, suatu saat kelak saat semuanya akan dipanggil oleh Tuhan. Semuanya. Tak terkecuali kita, dan Papi-Mami. Makanya, Lis banyak merenung, belajar untuk mandiri serta nggak bergantung sama Bokap-Nyokap."
Aku masih terkesima. Mendadak mendapati seorang Lisa yang lain, yang baru lahir ke dunia ini dengan sejumlah kearifan.
Kusandarkan punggungku ke kursi. Menghela napas lega. Terima kasih, Tuhan! Keajaiban itu telah tiba....
"Kamu mau memaafkan Lis kan, Di?" pintanya berharap-harap.
"Ten-tentu, tentu!" anggukku keras dengan segebung rasa bahagia.
Ah, ternyata ada yang tak kuketahui persis tentang Lisa. Waktu yang bergulir cepat telah perlahan mengubahnya. Bukan saja usianya yang perlahan menanjak dewasa, namun juga sifat dan perilakunya. Dan aku patut bersyukur untuk itu.
Rabu, 09 Desember 2009
Pudarnya Pesona Cleopatra
Label: kang Abik, novelBy: Habiburrahman El Shirazy
Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah ku kenal.
”Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu,” kata ibu.
“Kami pernah berjanji, jika dikaruniai anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu, Ibu mohon keikhlasanmu,” ucap beliau dengan nada mengiba.
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.
Dengan hati pahit ku serahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan airmata ibu yang amat ku cintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.
Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli!” kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah.
Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.
Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk di pelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pesta pun meriah dengan empat group rebana. Lantunan Shalawat Nabi pun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang ku cintai.
Rabbighfir lii wa liwalidayya!
Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.
Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja.
Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya ku sayang dan ku cintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.
Aku merasa hidupku adalah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.
Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihana pun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka dia pun tanya, tetapi ku jawab “tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga” Ada kekagetan yang ku tangkap di wajah Raihana ketika kupanggil “mbak”, “kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih.
“wallahu a’lam” jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca, Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?
Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku di dunia ini”.
Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata bukan karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.
Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi,
Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih” lanjutnya.
Aku melepas semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah siap” kata Raihana.
Aku tak bicara sepatah kata pun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri di depan pintu membawa handuk. “Mas aku buatkan wedang jahe”.
Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.
Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. “Mas masuk angin.
Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar.
“Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas”.
“Biasanya dikerokin” jawabku lirih.
“Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku.
Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur.
Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu’. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.
Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya. “Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu” kata Ratu Cleopatra. “Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”.
Aku mempersiapkan segalanya. Tepat pukul 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.
Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba “Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya” kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa.
“Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam.
Meskipun cuma mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku.
Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya?.
Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu darimana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.
“Mas, nanti sore ada acara aqiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang” Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe.
Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja.
“Maaf...maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana”, lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja.
“Mbak! Eh maaf, maksudku D...Din…Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan.
“Ya Mas!” sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil “dinda”. Matanya sedikit berbinar.
“Te…terima kasih Di…dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.
Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar di bibirnya.
“Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”.
Hana begitu bahagia.
Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya iya.
Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini. Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.
Acara pengajian dan aqiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga.
“Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia.
Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.
Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik di kampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.
Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana.
Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku.
Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan.
“Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu” kata ibuku.
“Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.
Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri.
Raihana hamil. Ia semakin manis.
Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya “Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya diam dan mendesah sedih. “Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta” gumamku.
Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orangtuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia ke rumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan,
“Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.
Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.
Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas di hati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar.
Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku nggak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.
Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa Arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa Arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang Mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa Arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani.
“Apakah kamu sudah menikah?” kata Pak Qalyubi.
“Alhamdulillah, sudah” jawabku.
“Dengan orang mana?”
“Orang Jawa”.
“Pasti orang yang baik ya. Iya kan?
Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”.
“Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”.
“Kau sangat beruntung, tidak sepertiku”.
“Kenapa dengan Bapak?”
“Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang”.
“Bagaimana itu bisa terjadi?”
“Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orangtua. Di sana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predikat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.
Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantik itu. Saya bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia.
Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.
Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat daripada dengan Yasmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya.
Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin. Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.
Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1, saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. Kami langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orangtuanya.
Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah.
Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali Yasmin tidak bisa. Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi.
Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan.
Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.
Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya.
Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.
Saya menyesal meletakkan kecantikan di atas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit.
Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedi yang menyakitkan.
“Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”.
Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.
Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku.
Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung mengigau meminta ibunya pulang.
Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang di mataku, tak terasa sudah dua bulan aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap di hati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun.
Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala di dindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan.
Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.
Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Di bawah kasur itu kutemukan kertas Merah jambu.
Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu.
Dan Rabbii ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa.
Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.
“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba” tulis Raihana.
Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa
“Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku.
Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.
Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya.
Ya Allah, Engkau Maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau”.
Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa.
Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angin sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku.
Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihana tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat di mata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.
Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan airmataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap airmataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis.
“Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.
“Raihana istrimu. istrimu dan anakmu yang dikandungnya”.
“Ada apa dengan dia?”.
“Dia telah tiada”. Ibu berkata.
“APA!”.
“Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu.
Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhoinya”.
Hatiku bergetar hebat. “kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”.
“ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi Maafkanlah kami.
Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya.
Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.
Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru di kuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua....

