oleh : Desti Raisha
Aku iri dengan dirinya. Apapun permintaannya selalu saja dituruti oleh ayahnya. Baru saja tiga hari yang lalu, ayahnya telah memenuhi keinginan Nur memiliki sebuah Blackberry. Masih teringat jelas ketika sebulan yang lalu, Nur bergelayut di kaki ayahnya yang sedang duduk di sofa merengek dibelikan sebuah laptop. Benar saja, ayahnya menyanggupinya dalam waktu tiga hari. Seringkali ku memergoki atau mendengarkan kisah sahabatku tentang ayahnya yang royal. Tokohnya pun tidak melulu tentang Nur, tetapi bergantian antara adik perempuannya, kakak laki-lakinya, dan ibunya. Baru saja, aku mendengarkan kisah bahagianya lagi. Hari ini Nur mendapatkan sepeda motor baru.
Kini aku menatap punggung ayahku yang sedang makan di meja makan kayu itu. Setiap ku melihat ayahku, entah mengapa yang terpikirkan adalah “seandainya ayahku adalah ayahnya Nur”. Angan-anganku memanjang menembus waktu dan rasa penghormatanku. Tanpa sadar aku masuk ke kamar melewati dirinya tanpa salam dan cium tangan, Ku banting pintu kamarku, “brak!”, dan kurebahkan badanku ke kasur hingga tertidur.
Entah mengapa pagi ini Handphone bututku berteriak tanpa henti. Dengan mata tertutup ku tempelkan Handphone di telingaku. Seketika mataku terbelalak dan dengan seksama mendengarkan kata perkata yang agak samar oleh tangisan histeris.
Innalillahi wa innailaihirroji’un. Ternyata ayah Nur ditahan oleh Kepolisian RI dengan dugaan korupsi senilai satu miliar rupiah di kantornya. Entah, airmataku mengalir begitu saja…
Aku menangis…
Aku menangis bukan karena ayahnya, tapi aku menangis karena ayahku.
Aku menangisi diriku yang tidak mensyukuri keberadaan ayahku dan jerih payahnya………
Allohu Robbi, hamba mohon ampun…
Sayangi ayah dan ibuku sebagaimana mereka menyayangiku..
Aamiin Allohumma aamiin
Jumat, 07 Januari 2011
[FF] Satu Kejahatanku Terhadap Ayah
Label: cerpen, flash fiction[ Baca Selengkapnya ]...
Langganan:
Komentar (Atom)


